Kebabmania Jilid 2

April 8th, 2006 by jhariman

Opi’s Kebab

180pxdoener_berlin_kraeuter Sebuah restaurant yang menyajikan makanan bernuansa Timur Tengah. Letaknya berada tepat di daerah Kemang Raya. Kalau dari arah traffic light Kemang - Prapanca, letaknya sebelah kiri setelah melewati KFC, sebelum pertigaan Kemang - Bangka Raya.

Dengan menyajikan kebab dan masakan Timur Tengah lainnya dengan rasa yang enak dan harga terjangkau, Opi’s Kebab ingin menjangkau market anak muda.  Sekitar tahun 1998, Opi’s Kebab ini pernah dibuka di daerah Buncit, tetapi karena suatu dan lain hal, mereka menutup tempat itu guna mencari daerah yang lebih strategis. Maka daerah Kemang terasa pas dan cocok karena sejak dibukanya Opi’s Kebab sejak 1 Januari ’05 tempat ini selalu penuh dengan orang yang ingin mencoba Kebab atau mencoba menghisap Shisha yang mereka tawarkan dalam berbagai macam rasa.

Untuk makanan Kebab itu sendiri, terdapat beberapa macam pilihan seperti Beef Kebab, Chicken Kebab, Lamb Kebab, Mix Kebab ( campuran dari chicken, lamb atau beef, sesuai dengan permintaan anda) atau bagi anda yang tidak makan daging, mereka juga menyediakan Vegetarian Kebab. Dan semua kebab mempunyai harga yang sama yaitu Rp. 12.500 per kebab dan dengan porsi yang  sangat besar. Coba Lamb Kebab dan coba Chicken Kebab. Kebab yang dicoba sangat enak, tebal dan pita bread yang sangat garing begitu digigit. Dan di dalam kebab itu sendiri terdapat lettuce, tomat, paprika, meat (chicken, lamb dan beef), tabouli seperti timun jepang dan parcley serta gabungan antara saos mayonnaise dan barbeque sauce dan juga yoghurt sauce. Yummy! dan dengan Rp.12.500,- anda bisa puas! Belum lagi dengan extra topping yang bisa bisa anda mix sendiri seperti mushroom, cheese, green pepper, roasted onion, tabouli dan meat yang harganya antara Rp 2.000 s/d Rp. 3.000,- bisa membuat kebab yang anda mix sendiri mempunyai rasa yang sangat sensasional.

Di dalam restaurant itu sendiri terdapat 3 buah bale-bale yang bisa digunakan untuk 2 orang ataupun lebih dari 5 orang untuk bisa mencoba macam2 kebab mereka atau menghisap Shisha - yang mana tersedia berbagai macam flavour  seperti apel, anggur, vanilla, cappuccino, strawberry serta rasa mint. Hanya dengan Rp 25.000, Anda bisa langsung merasakan rasa dari beberapa flavour
yang sebutkan tadi dan most order flavour mereka adalah vanilla, apel, anggur, strawberry dan cappuccino.

Ada sebuah minuman yang bernama Chae dan ini adalah salah satu minuman yang
wajib dipesan atau dicoba. Hanya dengan Rp.8.000,- Anda bisa merasakan kenikmatan dari teh susu yang dicampur dengan rempah-rempah ini dan rasanya membuat tubuh Anda hangat, ada yang mengatakan bahwa Chae ini juga mempunyai khasiat sebagai penambah tenaga. Jadi, jangan ragu untuk mencoba Chae ini!

Saya pun sudah mencoba makan di Opi Kebab ini dan gak disangka, ternyata ketagihan. Kalau di kategorikan, Kebab di sini dapat bintang 3 untuk originalitas (karena cuma ada ‘Donner’-style), 3 untuk lokasi (parkir gampang dan aman, cuma daerahnya yang macet), 4 untuk harga (sesuai dengan ukuran, pokoknya makan 1 pun kenyang :)).  4 untuk rasa.

A Quiz about My Twin Babies

April 8th, 2006 by jhariman

Guess Bisa nebak gak yang mana Darius, yang mana Daniel? :)

Kebabmania Jilid 1

April 6th, 2006 by jhariman

Kebab (kebap in Turkish, kabab in Iran, India and Pakistan, also spelled kebob, kabob) means "grilled (or broiled) meat" in Persian and Turkish. Kebab is usually made of lamb and beef, although chicken and fish can be used for some styles. Pork is never used by Muslims because of religious belief but is sometimes used by non-Muslim sellers.There are many varieties of kebab and the term means different things in different countries. The generic term kebab usually refers to döner kebab in Europe and to shish kebab in the United States, though its meaning can vary. Perhaps the earliest recipe is in the tenth-century Kitab al-Tabeekh كتاب الطبيخ (book of cookery) by Ibn Sayyar al-Warraq of Baghdad. His recipe for Kebab Khalis uses thin slices of lean meat, salted and grilled in an ungreased frying pan. (Kebab in Wikipedia)

Kebab Abou Ali

300pxkebab Warung tenda yang baru buka beberapa bulan ini di Jalan Margonda (Depok), dekat perumahan Pesona Kahyangan, jadi kalau dari arah UI, letaknya sebelah kiri jalan. Nah, di Warung Kebab yang bernama "Kebab Abou Ali" ini, dijual Kebab Arab, Kebab India, Kebab Turki. Wah, jarang-jarang nih …

Saya pun sudah mencoba makan di Warung Kebab ini bersama teman saya om Benyamin Fahmie dari Suzuki Jip Indonesia yang sama2 penggemar kebab.  Kalau di kategorikan, Kebab di sini dapat bintang 4 untuk originalitas, 2 untuk tempat (parkir agak susah), 3 untuk harga (agak mahal).

Berikut ini adalah review mengenai Kebab Abou Ali oleh rekan Irvan:

Begitu mendarat, saya disambut oleh seorang bapak berkacamata yang bicara dengan logat sangat "Arabic". Dia bahkan masih berbicara dalam bahasa arab pada anak dan istrinya yang berhijab panjang warna hitam khas arabiyah. Wah, kebab arab asli nih!! Si bapak, yang kemudian saya tahu bahwa dialah Abou Ali (Bapaknya Ali) yang konon masih CBU asli dari Arab (ngomongnya saja masih pake ‘f’ bukan pake ‘p’), memberikan daftar menu. Menunya bergambar dengan nama dan tambahan kode huruf. Paket A1, A2, B1 dst.

Melihat saya kebingungan, Abou Ali yang ramah ini langsung menjelaskan: "Yang Arab, ada 3 macham. Kebab kobideh, barg dan chenjeh. Lalu ada juga soultani yang isinya satu kobideh sama satu barg. Ada juga kebab india sama kebab turk" Bedanya apa? "Kobideh itu satu daging, fanjang kaya’ steak. Kalau barg, itu daging dithumbuk.. Kalau chenjeh, itu daging kambing tafi futus-futus.. Kebab india, daging kita kasi bumbu india. Kalau kebab turki, itu doner kebab" katanya sambil menunjuk panggangan tegak berputar seperti yang biasa kita lihat di.. Doner Kebab. OK, saya pesan satu kebab soultani yang terdiri satu kebab kobideh dan satu barg. Abou Ali lalu membawa sepiring kebab berisi beberapa potong daging yang sudah dimarinate dan ditusuk dengan lempengan besi tipis panjang. "Ini barg, ini kobideh. Funya anda" katanya sambil tersenyum. "Kalau ini, tomat sama chabe.." katanya sambil menunjukkan tomat merah yang dibelah dua, lalu ditusuk dengan lempengan besi. Tusukan daging dan tomat ini kemudian dipanggang di atas bara api dengan kipasan yang pelaan sekali. "Sabar.. harus sabaar.. Saya bisa bikin cefat-cefat, tapi tidak enak.. soalnya nanti luar matang, tapi dalam tidak" katanya.

Lima belas menit kemudian kebab saya siap. Kobideh adalah potongan daging tanpa lemak (sapi? kok saya ga tanya ya?) yang dimarinate dalam campuran bawang bombay dengan lebar sekitar 2 inch, tebal hampir 1 inch dan panjang 6 inch. Dagingnya empuuk banget, tapi dengan serat yang masih terasa sekali. Aroma bawang bombay meresap sampai ke dalam dan terasa pada setiap gigitan. A very simple yet satisfying piece of steak (tanpa saus sama sekali lho!). Barg dibuat dari daging yang digiling bersama bumbunya (dithumbuk, kata Abou Ali). Rasa bawang bombay semakin kuat dan tajam. Tampak ada sedikit jejak lemak pada dagingnya. Teksturnya kasar dan crumbly. Gilingan daging ini dibentuk sama seperti kobideh, fanjang.. Kedua potong daging ini didampingi oleh tomat dan cabe hijau yang dibakar sampai agak hangus, seiris jeruk nipis dan dimakan bersama nasi atau roti. Tentu saya pilih roti bundar tipis, yang saya kenal sebagai Lebanese bread. Roti ini dibuat sendiri oleh Abou Ali. Fresh banget rasanya. Saya sampai tambah rotinya lho.. Sebelum pulang saya beli tambahan roti. Sayang cuma dapat selembar.

Anaknya Abou Ali, si Ali, kemudian cerita: "sebetulnya masih ada, tapi tinggal sedikit, untuk doner kebab (kebab turki). Kalau mau anda bisa fesan, nanti kita bikinkan" Selesai menyantap kebab yang sedap ini, di rumah saya menubruk kopi Toraja keluaran Aroma.. aahh.. ya salaam.. ni’mat.. Alhamdulillah.. wass, irvan

PS : Ancer-ancer lokasi : kalau anda datang dari arah UIwood menuju Depok, maka Abou Ali ada di kiri jalan, persis sebelum Holland Bakery. Atau persis banget di sebrangnya Mr. Celup. Bukanya malem, ba’da maghrib sampai qobla midnight.. Dia juga punya kebab ayam dan salad …

BREAKING NEWS

April 4th, 2006 by jhariman
Puji syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, telah lahir putra kedua dan ketiga kami di RS Bersalin Hermina, Jatinegara dengan selamat:

DANIEL VLADIMIR EUDIA HARIMAN
lahir: 5 April 2006, 3.05 pagi, berat 2300 gr, panjang 46 cm

dan

DARIUS EMMANUEL EUDIA HARIMAN

lahir: 5 April 2006, 3.07 pagi, berat 2270 gr, panjang 46 cm

Kondisi ibu dan bayi semuanya dalam keadaan sehat, dan kami mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan serta doa restu dari kawan-kawan sekalian.

Kami yang berbahagia,
- james & yully -

Bike: On Road vs Off Road

February 18th, 2006 by jhariman

Sabtu (18/2), ada 3 rekor yang terpecahkan dalam bersepeda:

  1. Rekor jarak … tembus 50 km
  2. Rekor kecepatan … tembus 50 kpj
  3. Rekor waktu … start jam 5 pagi, selesai jam 14.30 sore

Contairoain_tube_1 Hari ini, saya bersepeda bersama anak2 MTB-Rockers. Dimulai dengan bersepeda dari rumah sampai ke tempat kumpul mereka di Kantor Kecamatan Ciputat di Jalan Pamulang 2 … saya pilih rute melewati Bank Permata, Akses Tol, Cendrawasih, Kampung Sawah, Bukit Nusa Indah, Villa Dago Tol, dan langsung tembus di Pamulang 2. Selamet, perjalanan dilakukan nonstop, tanpa berhenti … total 11 km.

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Gunung Sindur, untuk menikmati Warung Hj. Neneng (Sop Sopan). Aslinya, rute perjalanan hari ini on-road menuju Cihuni, tetapi entah kenapa, road-captain memutuskan rute perjalanan menjadi ke Sop-sopan. Perjalanan pun dimulai menyusuri Ciater Raya, belok kiri masuk ke arah perumahan BSD Kencana Loka, dan ber-off-road ria di perumahan BSD "The Latinos" yang baru dibangun … lumayan cukup menguras tenaga, karena tanahnya yang gembur dan super lengket menempel di ban …

Tembus di belakang The Latinos melalui lobang tikus (bener-bener lobang tikus, karena harus turun dari sepeda, merunduk untuk menembus lobang tinggi 1.5 meter lebar 1 meter) … off-road lagi melalui perkampungan penduduk, Kompleks BATAN, kawasan penggalian pasir, hingga tembus di Puspitek. Istirahat sejenak karena ada 1 rekan yang terkena hypoxia sesaat … lumayan, sempat doping Kratindaeng alias minuman kebo merah …

Di Puspitek yang sepi (entah karena memang hari Sabtu yang libur, atau sehari2 memang sepi), kita bersepeda on-road di jalannya yang mulus dan licin tanpa lubang, dan menjelang ujung jalan keluar ke arah "Kuburan Cina", ada turunan panjang dan disitulah rekor kecepatan pecah … begitu keluar Kuburan Cina, sempat melihat situs tempat yang konon katanya menjadi tempat tewasnya seorang pereli terkenal waktu mengujicoba mobilnya … memang angker, melewati tempat galian pasir lagi, off-road lagi, tembus perkampungan penduduk dan akhirnya sampai di Warung Hj. Neneng yang dikenal dengan masakan sop-sopannya … pepes jamurnya lumayan enak, tapi kalo sop-nya … rasanya koq biasa aja ya, nothing special banget …

Perjalanan balik pun dimulai, ternyata tidak segampang perjalanan pergi. Dengan maksud mencari jalan alternatif yang lebih dekat / shortcut, ternyata dibawa berputar2 di kawasan rumah penduduk, menyusuri sawah, jalan off-road yang berlumpur, dan masih banyak lagi … sampai akhirnya, pake ilmu GPS yang bukan Global Positioning System, tapi "Ganggu Penduduk Setempat" alias nanya "Mpok, numpang nanya, jalan besar di mana ya?" … sampai akhirnya, tembus di Puspitek Raya (jalan akses Serpong - Ciputat). Di sini kilometer sudah mencapai 40 km. Waktu menunjukkan jam 2 siang.

Berhubung Istri sudah menelepon berkali2, saya memutuskan untuk kembali ke rumah dengan bantuan kendaraan lain, apa itu taksi, ojek, sewa angkot … dan alhamdulilah, puji Tuhan, dapet juga taksi Tiffani yang kebetulan sopir yang merangkap pemiliknya baru saja mau parkir (sampai di rumahnya), bujuk punya bujuk … tanpa protes, beliau bersedia mengantar sampai rumah, dengan pakai argo (seperti biasa) … kilometer di Cateye Velo 8 sudah menyentuh 50 km. Ban sepeda pun dilepas, dan sepeda pun masuk ke dalam bagasi … lumayan, hemat 11 km … dan dapat satu relasi lagi, karena beliau memiliki HP dan bisa dikontak 24 jam, untuk mengantar / menjemput apabila diperlukan.

Ternyata, off-road jauhhhh lebih berat dibandingkan dengan on-road … hitungannya memang 2x lebih berat dibandingkan on-road … apalagi semalam sebelumnya hujan deras, dan menyebabkan tanah liat semakin gembur - dan menghambat putaran roda, dan cocok sekali untuk menanam jagung (seperti kata lagunya Ibu Soed) … walhasil, begitu sampai rumah, mandi, langsung buat blog ini, dan rencananya mau tidur … cuma badan koq terasa pegal2 dan meriang ya … sukur PM dengan sayangnya mengoleskan minyak kelapa di kulit yang merah kayak kepiting rebus, dan belang di bagian sarung tangan, jam, dan bike pants … sambil menasehati: "Lagian, kalo maen sepeda, jangan sampe jam 1/2 3 sore … " secara berulang2 side-A, side-B …

Minggu (19/2) Bangun pagi, lumayan segeran dikit … cuma betis masih belum bisa diajak kompromi … ke gereja, baliknya berhubung kakak ipar ulang tahun, makan dulu di Sentul Steamboat di … Ruko Niaga Sentul (emang deket!). Paket Large-nya masih Rp 125.000, dan lumayan eeennnaaaakkk.

Begitu merapat di rumah, langsung berangkat untuk cuci steam sepeda di tempat cuci motor di Jombang Raya … balik rumah, di Sworks Shimano Silver (sebutan saya buat sepeda saya), udah kinclong, dan tidak lupa melakukan ritual sehabis cuci yakni memberikan WD40 di rantai serta menyemir ban pake KIT Black Magic … hehehe :)

So, Minggu depan bagaimana? I do prefer on-road aja akhhhh …. ketemu sama rekan2 B2W di Senayan. Berharap sih kuat, tapi kayaknya on-road tidak seberat off-road, yang hitungan kilometer-nya 2x lipat dibandingkan on-road.

Dapat disimpulkan bahwa:

  • Meskipun jaraknya dekat, untuk off-road dibutuhkan stamina extra, karena medannya kasar / tidak rata. Kadang harus melalui jalanan tanah berlumpur, dan benar2 menyiksa stamina. 
  • Untuk off road, harus dapat berkonsentrasi dengan lebih serius, karena harus bisa memprediksi dengan tepat, apakah rute ini bisa dilewati atau tidak, kalau tidak pan sepeda harus didorong atau dipanggul. Sedang kalau nekad, resikonya dimulai dari minimal nyebur sawah, nyangkut pagar hingga masuk jurang …
  • Pakai sepeda dengan sistem V-brake di medan off-road … berhubung melewati daerah tanah liat yang gembur setelah semalaman diguyur hujan, tanah pun menyangkut di pelek, sehingga menghambat laju roda, minimal menambah beban genjotan pedal. Istilahnya misalnya 20 kilo off road, tanahnya pun 20 kilo … 
  • Meskipun on-road memiliki resiko yang sama dengan off-road, tapi yang namanya on-road masih memiliki keunggulan: masih bertemu dengan manusia … mau bukti? gak usah jauh2, siapa yang berani lewat Kuburan Cina yang ada di belakang Puspitek kalo gak rame2 … dilindungi pohon bambu, agak gelap, sepi, pokoknya suasananya mirip filmnya Suzana taon ‘80-an … otomatis, adrenalin pun terpicu untuk menggowes lebih kencang, padahal di depannya ada turunan cukup tajam yang licin …
  • Di medan off-road, banyak sekali tanjakan / turunan yang blind … istilahnya sudah nekuk, ternyata masih menanjak, atau masih menurun, dan ujungnya ada kolam (empang) penduduk setempat yang biasa dipakai untuk … memelihara ikan, sekaligus … (gak usah diceritain), pokoknya kalo meleset dan nyebur … hmmm … polusi emisi udara langsung meningkat drastis.

Oleh sebab itu: kalo diajak off-road masuk-keluar kampung, begitu ketemu jalan raya, dan selanjutnya diajak masuk kampung lagi (off-road lagi) … pasti saya langsung teriak "Ada yang punya Counterpain?" :)

Note: Sampai blog ini selesai diketik, sudah habis 2 tube counterpain ukuran kecil yang dioleskan di betis, dan 2 buah tablet ponstan …

Freedom vs Wisdom

February 5th, 2006 by jhariman

Sekarang ini, sedang heboh ramai-ramai memprotes mengenai pemuatan kartun Nabi Muhammad di salah satu media massa di Denmark, yang melukai hati umat Islam sedunia, bahkan sampai kedutaan besar Denmark di Syria dan Libanon dirusak dan dibakar. Di Jakarta sendiri, sempat hampir terjadi chaos di Wisma Rajawali (tempat kantor kedutaan Denmark berada), syukurlah sempat diredam, sehingga tidak terjadi kejadian yang berarti.

Terus terang saja, saya pun penasaran seperti apa kartun tersebut, setelah browsing di internet dan melihat langsung, jujur saja - imho - there’s nothing special, tidak ada lucu2nya sama sekali, bahkan yang ada malah penghinaan. Sepengetahuan saya (meskipun saya bukan Muslim), di dalam agama Islam, menggambarkan Nabi Muhammad saja sudah dilarang, apalagi mengkarikaturkannya. Ya kita sebagai sesama umat beragama, wajib menghormati hal tersebut.

Di negara-negara barat yang begitu mengagung-agungkan HAM (human rights), freedom to speech (yang menjadi alasan mereka untuk memuat kartun tersebut) terus terang saja telah melahirkan pelanggaran HAM, khususnya bagi pemeluk agama Islam, karena tidak tidak disertai wisdom in speech. Mestinya, media tersebut harus memperhitungkan reaksi dan dampak negatif dari pemuatan kartun tersebut, bukan cuma semata2 demi kebebasan berbicara, berekspresi dan berkreasi.

Tetapi, saya pun tidak setuju kalau yang menjadi pelampiasan adalah perusakan kantor kedutaan besar / perwakilan negara tersebut, serta dilakukannya ’sweeping’ terhadap  orang2 Denmark yang ada. Mereka tidak bersalah, hanya menjadi korban dari kekonyolan media yang kebablasan.

Semoga media di Indonesia dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari kejadian ini, untuk tidak latah untuk mengaplikasikan freedom to speech. Karena freedom tanpa wisdom, semuanya akan berakhir fatal.

PS: Untuk yang ingin tahu seperti apa kontroversi kartun tersebut - mohon maaf, Anda harus cari sendiri via search engine (Yahoo! atau Google).Apabila Anda merasa memang tidak layak / tidak pantas dilakukan, sebaiknya JANGAN dilakukan.

Hit the Road, Jack!

February 3rd, 2006 by jhariman

Weekly_transportation Hari ini, kembali bersepeda lagi … tapi kali ini 90% on-road.

Start dari rumah jam 6.30 pagi. Sebetulnya diplanning bangun jam 5 pagi, tetapi berhubung tadi malamnya keasyikan main SimCity 4 RH yang sudah full plugins, terus juga PM lupa ngebangunin … Begitu bangun, langsung pakai bike-pants, bike-shoes dan helm, ambil botol air, tas, dan go!

Perjalanan hari ini rutenya Rumah - Bintaro Sektor 9 - Villa Bintaro - Mpok Cafe (sarapan pagi, sekaligus nunggu rekan2 dari TO-Bikers yang start-nya dari Villa Dago Tol). Lanjut ke VIlla Bintaro, tekuk kiri ke arah Permata Bintaro - Perigi - Graha Raya - Villa Melati Mas - Roda Link (berhenti sejenak di toko sepeda, umayan, dapet bel seharga Rp 15rb doang :)). Lanjut ke BSD, mampir sejenak di Bagus Bike, Lingkar Timur BSD, masuk trek JPG dari BSD langsung tembus di Mpok Cafe. Istirahat sejenak, kemudian langsung balik ke rumah via Villa Bintaro dan Sektor 9.

Summary hari ini: total kilometer = 36.98 km, ditempuh dalam 2 jam 21 menit 55 detik, dengan speed rata2 15.6 kpj, max. speed = 40.3 kpj.

Pegal? Tidak … cuma sedikit memar dan luka parut akibat nyungsep gara-gara polisi tidur di depan pool Blue Bird Perigi … Minggu depan, kayaknya bakal lebih edan lagi nih … rencananya mau ke Cisauk … semoga tidak hujan, dan treknya on-road, hehehehe :)

I want to ride my bicycle

February 1st, 2006 by jhariman

Power_transfer Gara-gara ukuran badan yang XL dan sedikit overweight (90 kg, hehehe :)), PM (sebutan saya buat istri saya) menganjurkan saya untuk berolahraga. Setelah menseleksi olah raga yang sesuai:

(1) jogging - tidak suka; dicoret dari daftar

(2) fitness - suka, tapi sayangnya gak ada tempat fitness yang dekat rumah; dicoret dari daftar

(3) golf - driving range kebetulan dekat rumah, tetapi perangkatnya mahal; dicoret dari daftar.

Pilihan akhirnya jatuh pada kegiatan bersepeda …. tanpa menunggu lama2, sepeda rakitan made in Formula-Bike Ciputat sudah menjadi warga baru di rumah saya.

Adapun spek sepeda rakitan yang digunakan adalah: Frame cap S-Works Specialized M5; Group Set cap Shimano Acera; Fork cap RST Omega-DA T6; Spedometer cap Cateye Velo 8; sisanya cari perangkat murah-meriah, yang penting hub roda sudah ‘disc brake’-ready, meskipun sekarang masih menggunakan v-brake alias rem jepit … hihihi … cukup tight budget tetapi cukup affordable dan representatif untuk pemula. Itupun PM pake acara ngomel2 "koq harganya mahal banget" …

Hari pertama bersepeda: bersama teman2 TO-Bikers - langsung menjajal trek JPG (Jalur-Pipa-Gas) yang membentang mulai dari Villa Dago Tol sampai ke BSD. Setelah melaju sejauh 1.7 km, setelah melewati rel kereta, langsung KO selama 10 menit. Siuman, akhirnya menyerah di Km 3.5 (warung Mpok). Pulang nebeng pake mobil temen …

Hari kedua: hampir sekitar 5 km on-road di Bintaro. Mulai dari rumah - Ruko Sentra Menteng (untuk melihat kerjaan) - Bunderan Bank Permata - Alfa - Bakmi Japos - Bank Niaga - Gerbang Menteng Bintaro (putar balik) - Ruko Sentra Menteng - rumah. Napas udah mulai teratur, dan stamina fisik sudah mulai meningkat …

Hari ketiga: JPG (lagi). Kali ini sudah tidak malu2in … cuma baru tahu dan berasa, bahwa ternyata main sepeda di trek off-road bener2 berat yaaa … karena harus mengimbangi antara jalan setapak yang berlumpur, pematang sawah, duri2 pohon, belum lagi tanjakan-turunan yang licin. Walhasil hari itu jalan sejauh 13.26 km, sukses gak nyemplung sawah … di trek on-road, kecepatan maksimum dapat 31 kpj …

Besok bagaimana? Lihat saja nanti … tapi yang pasti, memang kegiatan bersepeda ini memang sehat, asyik dan seru!

Kerampokan …

November 1st, 2005 by jhariman

Minggu kemarin (30/10), waktu saya ke gereja bersama istri dan anak, rumah saya kerampokan. Kawanan rampok tersebut membawa barang elektronik (TV, HiFi, 2 unit CPU, Digital Camera), sejumlah uang dan perhiasan istri … sebenarnya sih barang bisa dicari, tetapi yang membuat kesal adalah 2 unit CPU yang diambil tersebut terus terang saja memiliki data yang boleh dibilang tidak ternilai harganya …

Kasusnya sendiri telah ditangani oleh Polsek Pondok Aren, tetapi masih belum menemukan titik terang. Terus terang saja, kecurigaan mengarah ke satpam yang bekerja sama dengan perampok tersebut, karena ini adalah kompleks 1 pintu dan mereka sudah mengamati kapan saat rumah saya kosong. Tetapi tentu tidak bisa sembarangan menuduh mereka, karena harus dilengkapi dengan bukti2 yang kuat.

Kalaupun perampoknya tersebut tertangkap, selanjutnya terserah - apakah mau diproses sesuai dengan hukum yang berlaku, atau ‘dihilangkan’ …

Anyway, saya tetap percaya bahwa Tuhan punya rencana, dan tetap bersyukur bahwa gak ada seorang pun yang tinggal di rumah pada saat itu, kalo tidak mungkin rumah saya sampai hari ini tidak dapat ditinggali, karena dipasang police line … melihat cara mereka bekerja dan peralatan yang digunakan.

Puji Tuhan …. (meskipun dengan nada sedikit lemas :))

Goodbye BP

September 19th, 2005 by jhariman
722005209381820am_1 Tanpa terasa sudah 2 tahun saya pakai si BP (sebutan saya buat Taruna saya), dan kini waktunya berpisah. Hari ini, setelah tadi melalui proses cek fisik di Polda Metro Semanggi dan transaksi di BCA Ratu Plaza, si BP telah berpindah tangan kepada pemilik yang baru (orang Bali, katanya sih mau dibawa ke Bali, bakal jadi plat DK :))
Terus terang saja, banyak kenangan yang dialami bersama si BP, baik suka maupun duka, mulai dari angkut si kecil (mulai dari hamil, sampai lahir, sampai sekarang batita), jadi kendaraan untuk meeting, jadi kendaraan dinas, jadi kendaraan pembuka lajur konvoi, jadi toll marshall, jadi blind van alias angkutan barang, jadi angkutan sembako (pas lagi baksos), nembus banjir, jalan-jalan bareng bersama teman2 milis Feroza, DTC maupun Taruna Owners …. dan masih banyak lagi ….
Goodbye BP, I miss you so much.