Bike: On Road vs Off Road
Saturday, February 18th, 2006Sabtu (18/2), ada 3 rekor yang terpecahkan dalam bersepeda:
- Rekor jarak … tembus 50 km
- Rekor kecepatan … tembus 50 kpj
- Rekor waktu … start jam 5 pagi, selesai jam 14.30 sore
Hari ini, saya bersepeda bersama anak2 MTB-Rockers. Dimulai dengan bersepeda dari rumah sampai ke tempat kumpul mereka di Kantor Kecamatan Ciputat di Jalan Pamulang 2 … saya pilih rute melewati Bank Permata, Akses Tol, Cendrawasih, Kampung Sawah, Bukit Nusa Indah, Villa Dago Tol, dan langsung tembus di Pamulang 2. Selamet, perjalanan dilakukan nonstop, tanpa berhenti … total 11 km.
Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Gunung Sindur, untuk menikmati Warung Hj. Neneng (Sop Sopan). Aslinya, rute perjalanan hari ini on-road menuju Cihuni, tetapi entah kenapa, road-captain memutuskan rute perjalanan menjadi ke Sop-sopan. Perjalanan pun dimulai menyusuri Ciater Raya, belok kiri masuk ke arah perumahan BSD Kencana Loka, dan ber-off-road ria di perumahan BSD "The Latinos" yang baru dibangun … lumayan cukup menguras tenaga, karena tanahnya yang gembur dan super lengket menempel di ban …
Tembus di belakang The Latinos melalui lobang tikus (bener-bener lobang tikus, karena harus turun dari sepeda, merunduk untuk menembus lobang tinggi 1.5 meter lebar 1 meter) … off-road lagi melalui perkampungan penduduk, Kompleks BATAN, kawasan penggalian pasir, hingga tembus di Puspitek. Istirahat sejenak karena ada 1 rekan yang terkena hypoxia sesaat … lumayan, sempat doping Kratindaeng alias minuman kebo merah …
Di Puspitek yang sepi (entah karena memang hari Sabtu yang libur, atau sehari2 memang sepi), kita bersepeda on-road di jalannya yang mulus dan licin tanpa lubang, dan menjelang ujung jalan keluar ke arah "Kuburan Cina", ada turunan panjang dan disitulah rekor kecepatan pecah … begitu keluar Kuburan Cina, sempat melihat situs tempat yang konon katanya menjadi tempat tewasnya seorang pereli terkenal waktu mengujicoba mobilnya … memang angker, melewati tempat galian pasir lagi, off-road lagi, tembus perkampungan penduduk dan akhirnya sampai di Warung Hj. Neneng yang dikenal dengan masakan sop-sopannya … pepes jamurnya lumayan enak, tapi kalo sop-nya … rasanya koq biasa aja ya, nothing special banget …
Perjalanan balik pun dimulai, ternyata tidak segampang perjalanan pergi. Dengan maksud mencari jalan alternatif yang lebih dekat / shortcut, ternyata dibawa berputar2 di kawasan rumah penduduk, menyusuri sawah, jalan off-road yang berlumpur, dan masih banyak lagi … sampai akhirnya, pake ilmu GPS yang bukan Global Positioning System, tapi "Ganggu Penduduk Setempat" alias nanya "Mpok, numpang nanya, jalan besar di mana ya?" … sampai akhirnya, tembus di Puspitek Raya (jalan akses Serpong - Ciputat). Di sini kilometer sudah mencapai 40 km. Waktu menunjukkan jam 2 siang.
Berhubung Istri sudah menelepon berkali2, saya memutuskan untuk kembali ke rumah dengan bantuan kendaraan lain, apa itu taksi, ojek, sewa angkot … dan alhamdulilah, puji Tuhan, dapet juga taksi Tiffani yang kebetulan sopir yang merangkap pemiliknya baru saja mau parkir (sampai di rumahnya), bujuk punya bujuk … tanpa protes, beliau bersedia mengantar sampai rumah, dengan pakai argo (seperti biasa) … kilometer di Cateye Velo 8 sudah menyentuh 50 km. Ban sepeda pun dilepas, dan sepeda pun masuk ke dalam bagasi … lumayan, hemat 11 km … dan dapat satu relasi lagi, karena beliau memiliki HP dan bisa dikontak 24 jam, untuk mengantar / menjemput apabila diperlukan.
Ternyata, off-road jauhhhh lebih berat dibandingkan dengan on-road … hitungannya memang 2x lebih berat dibandingkan on-road … apalagi semalam sebelumnya hujan deras, dan menyebabkan tanah liat semakin gembur - dan menghambat putaran roda, dan cocok sekali untuk menanam jagung (seperti kata lagunya Ibu Soed) … walhasil, begitu sampai rumah, mandi, langsung buat blog ini, dan rencananya mau tidur … cuma badan koq terasa pegal2 dan meriang ya … sukur PM dengan sayangnya mengoleskan minyak kelapa di kulit yang merah kayak kepiting rebus, dan belang di bagian sarung tangan, jam, dan bike pants … sambil menasehati: "Lagian, kalo maen sepeda, jangan sampe jam 1/2 3 sore … " secara berulang2 side-A, side-B …
Minggu (19/2) Bangun pagi, lumayan segeran dikit … cuma betis masih belum bisa diajak kompromi … ke gereja, baliknya berhubung kakak ipar ulang tahun, makan dulu di Sentul Steamboat di … Ruko Niaga Sentul (emang deket!). Paket Large-nya masih Rp 125.000, dan lumayan eeennnaaaakkk.
Begitu merapat di rumah, langsung berangkat untuk cuci steam sepeda di tempat cuci motor di Jombang Raya … balik rumah, di Sworks Shimano Silver (sebutan saya buat sepeda saya), udah kinclong, dan tidak lupa melakukan ritual sehabis cuci yakni memberikan WD40 di rantai serta menyemir ban pake KIT Black Magic … hehehe
So, Minggu depan bagaimana? I do prefer on-road aja akhhhh …. ketemu sama rekan2 B2W di Senayan. Berharap sih kuat, tapi kayaknya on-road tidak seberat off-road, yang hitungan kilometer-nya 2x lipat dibandingkan on-road.
Dapat disimpulkan bahwa:
- Meskipun jaraknya dekat, untuk off-road dibutuhkan stamina extra, karena medannya kasar / tidak rata. Kadang harus melalui jalanan tanah berlumpur, dan benar2 menyiksa stamina.
- Untuk off road, harus dapat berkonsentrasi dengan lebih serius, karena harus bisa memprediksi dengan tepat, apakah rute ini bisa dilewati atau tidak, kalau tidak pan sepeda harus didorong atau dipanggul. Sedang kalau nekad, resikonya dimulai dari minimal nyebur sawah, nyangkut pagar hingga masuk jurang …
- Pakai sepeda dengan sistem V-brake di medan off-road … berhubung melewati daerah tanah liat yang gembur setelah semalaman diguyur hujan, tanah pun menyangkut di pelek, sehingga menghambat laju roda, minimal menambah beban genjotan pedal. Istilahnya misalnya 20 kilo off road, tanahnya pun 20 kilo …
- Meskipun on-road memiliki resiko yang sama dengan off-road, tapi yang namanya on-road masih memiliki keunggulan: masih bertemu dengan manusia … mau bukti? gak usah jauh2, siapa yang berani lewat Kuburan Cina yang ada di belakang Puspitek kalo gak rame2 … dilindungi pohon bambu, agak gelap, sepi, pokoknya suasananya mirip filmnya Suzana taon ‘80-an … otomatis, adrenalin pun terpicu untuk menggowes lebih kencang, padahal di depannya ada turunan cukup tajam yang licin …
- Di medan off-road, banyak sekali tanjakan / turunan yang blind … istilahnya sudah nekuk, ternyata masih menanjak, atau masih menurun, dan ujungnya ada kolam (empang) penduduk setempat yang biasa dipakai untuk … memelihara ikan, sekaligus … (gak usah diceritain), pokoknya kalo meleset dan nyebur … hmmm … polusi emisi udara langsung meningkat drastis.
Oleh sebab itu: kalo diajak off-road masuk-keluar kampung, begitu ketemu jalan raya, dan selanjutnya diajak masuk kampung lagi (off-road lagi) … pasti saya langsung teriak "Ada yang punya Counterpain?"
Note: Sampai blog ini selesai diketik, sudah habis 2 tube counterpain ukuran kecil yang dioleskan di betis, dan 2 buah tablet ponstan …

