Kebabmania Jilid 1

Kebab (kebap in Turkish, kabab in Iran, India and Pakistan, also spelled kebob, kabob) means "grilled (or broiled) meat" in Persian and Turkish. Kebab is usually made of lamb and beef, although chicken and fish can be used for some styles. Pork is never used by Muslims because of religious belief but is sometimes used by non-Muslim sellers.There are many varieties of kebab and the term means different things in different countries. The generic term kebab usually refers to döner kebab in Europe and to shish kebab in the United States, though its meaning can vary. Perhaps the earliest recipe is in the tenth-century Kitab al-Tabeekh كتاب الطبيخ (book of cookery) by Ibn Sayyar al-Warraq of Baghdad. His recipe for Kebab Khalis uses thin slices of lean meat, salted and grilled in an ungreased frying pan. (Kebab in Wikipedia)

Kebab Abou Ali

300pxkebab Warung tenda yang baru buka beberapa bulan ini di Jalan Margonda (Depok), dekat perumahan Pesona Kahyangan, jadi kalau dari arah UI, letaknya sebelah kiri jalan. Nah, di Warung Kebab yang bernama "Kebab Abou Ali" ini, dijual Kebab Arab, Kebab India, Kebab Turki. Wah, jarang-jarang nih …

Saya pun sudah mencoba makan di Warung Kebab ini bersama teman saya om Benyamin Fahmie dari Suzuki Jip Indonesia yang sama2 penggemar kebab.  Kalau di kategorikan, Kebab di sini dapat bintang 4 untuk originalitas, 2 untuk tempat (parkir agak susah), 3 untuk harga (agak mahal).

Berikut ini adalah review mengenai Kebab Abou Ali oleh rekan Irvan:

Begitu mendarat, saya disambut oleh seorang bapak berkacamata yang bicara dengan logat sangat "Arabic". Dia bahkan masih berbicara dalam bahasa arab pada anak dan istrinya yang berhijab panjang warna hitam khas arabiyah. Wah, kebab arab asli nih!! Si bapak, yang kemudian saya tahu bahwa dialah Abou Ali (Bapaknya Ali) yang konon masih CBU asli dari Arab (ngomongnya saja masih pake ‘f’ bukan pake ‘p’), memberikan daftar menu. Menunya bergambar dengan nama dan tambahan kode huruf. Paket A1, A2, B1 dst.

Melihat saya kebingungan, Abou Ali yang ramah ini langsung menjelaskan: "Yang Arab, ada 3 macham. Kebab kobideh, barg dan chenjeh. Lalu ada juga soultani yang isinya satu kobideh sama satu barg. Ada juga kebab india sama kebab turk" Bedanya apa? "Kobideh itu satu daging, fanjang kaya’ steak. Kalau barg, itu daging dithumbuk.. Kalau chenjeh, itu daging kambing tafi futus-futus.. Kebab india, daging kita kasi bumbu india. Kalau kebab turki, itu doner kebab" katanya sambil menunjuk panggangan tegak berputar seperti yang biasa kita lihat di.. Doner Kebab. OK, saya pesan satu kebab soultani yang terdiri satu kebab kobideh dan satu barg. Abou Ali lalu membawa sepiring kebab berisi beberapa potong daging yang sudah dimarinate dan ditusuk dengan lempengan besi tipis panjang. "Ini barg, ini kobideh. Funya anda" katanya sambil tersenyum. "Kalau ini, tomat sama chabe.." katanya sambil menunjukkan tomat merah yang dibelah dua, lalu ditusuk dengan lempengan besi. Tusukan daging dan tomat ini kemudian dipanggang di atas bara api dengan kipasan yang pelaan sekali. "Sabar.. harus sabaar.. Saya bisa bikin cefat-cefat, tapi tidak enak.. soalnya nanti luar matang, tapi dalam tidak" katanya.

Lima belas menit kemudian kebab saya siap. Kobideh adalah potongan daging tanpa lemak (sapi? kok saya ga tanya ya?) yang dimarinate dalam campuran bawang bombay dengan lebar sekitar 2 inch, tebal hampir 1 inch dan panjang 6 inch. Dagingnya empuuk banget, tapi dengan serat yang masih terasa sekali. Aroma bawang bombay meresap sampai ke dalam dan terasa pada setiap gigitan. A very simple yet satisfying piece of steak (tanpa saus sama sekali lho!). Barg dibuat dari daging yang digiling bersama bumbunya (dithumbuk, kata Abou Ali). Rasa bawang bombay semakin kuat dan tajam. Tampak ada sedikit jejak lemak pada dagingnya. Teksturnya kasar dan crumbly. Gilingan daging ini dibentuk sama seperti kobideh, fanjang.. Kedua potong daging ini didampingi oleh tomat dan cabe hijau yang dibakar sampai agak hangus, seiris jeruk nipis dan dimakan bersama nasi atau roti. Tentu saya pilih roti bundar tipis, yang saya kenal sebagai Lebanese bread. Roti ini dibuat sendiri oleh Abou Ali. Fresh banget rasanya. Saya sampai tambah rotinya lho.. Sebelum pulang saya beli tambahan roti. Sayang cuma dapat selembar.

Anaknya Abou Ali, si Ali, kemudian cerita: "sebetulnya masih ada, tapi tinggal sedikit, untuk doner kebab (kebab turki). Kalau mau anda bisa fesan, nanti kita bikinkan" Selesai menyantap kebab yang sedap ini, di rumah saya menubruk kopi Toraja keluaran Aroma.. aahh.. ya salaam.. ni’mat.. Alhamdulillah.. wass, irvan

PS : Ancer-ancer lokasi : kalau anda datang dari arah UIwood menuju Depok, maka Abou Ali ada di kiri jalan, persis sebelum Holland Bakery. Atau persis banget di sebrangnya Mr. Celup. Bukanya malem, ba’da maghrib sampai qobla midnight.. Dia juga punya kebab ayam dan salad …

Leave a Reply